YpbnII0FN1f46YefAvIEUSgpDWrBERS7WLQQkJGW

1.1 Denyut Pendidikan Muhammadiyah di Metro Barat: Membaca Ekosistem, Dahaga Pendidikan Dasar, dan Langkah Awal 2017

H.Kasimun,S.Ag.,M.M memberikan pengarahan sebelum berangkat ke Yogyakarta 10 November 2017 Pukul 06.34

BAGIAN I: MENYEMAI GAGASAN DI BUMI METRO BARAT

1.1 Denyut Pendidikan Muhammadiyah di Metro Barat: Membaca Ekosistem, Dahaga Pendidikan Dasar, dan Langkah Awal 2017

Aroma kopi hitam yang mulai dingin di sudut meja kerja kantor Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Metro Barat sore itu seolah menjadi saksi bisu dari sebuah kegelisahan yang memuncak. Waktu menunjukkan pukul tiga sore di pertengahan tahun 2017. Dari balik jendela kaca kantor PCM yang berdebu tipis, pandangan saya tertuju pada deretan anak-anak panti asuhan yang berjalan pulang melintasi Jalan Khairbras, Kelurahan Ganjar Asri. Seragam putih-merah yang mereka kenakan tampak kusam oleh debu jalanan, langkah kaki mereka gontai setelah menempuh perjalanan dari sekolah dasar negeri di luar lingkungan persyarikatan.

Sebagai Sekretaris Eksekutif PCM Metro Barat yang kala itu juga tengah mengasah ruang pikir akademik, pemandangan sederhana tersebut tidak sekadar menyentuh empati kemanusiaan saya, melainkan menghantam ruang analisis kritis. Mengapa anak-anak kita harus mereguk pendidikan dasar di sekolah negeri dan bukan di sekolah Islam milik Muhammadiyah? Mengapa sebuah kawasan yang dikenal sebagai gerbang barat Kota Pendidikan justru menyimpan lubang menganga pada fondasi paling dasarnya?

Pertanyaan retoris itu terus berdentang di kepala saya. Pertanyaan yang kelak mengubah peta perjalanan hidup saya dari seorang penggerak di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menjadi bagian dari panitia penataan dan perintis garda depan pendidikan dasar Persyarikatan.

Romantisme Sejarah dan Paradoks Ekosistem AUM

Menatap Metro Barat hari ini berarti menatap potret sejarah peradaban yang unik. Kota Metro tidak lahir dari hamparan perkotaan yang tumbuh alami, melainkan dari peluh dan keuletan para kolonis pulau Jawa yang menginjakkan kaki di tanah Sukadana pada tahun 1935 dan 1936. Lahan rawa dan rimba belantara yang dulu terbagi dalam nomor-nomor bedeng—seperti Bedeng 14-1 yang kini menjelma menjadi Ganjar Agung atau Bedeng 16c yang kini bernama Mulyojati—perlahan bertransformasi menjadi permukiman produktif berlandaskan semangat gotong royong.

Dalam rekam sejarah lokal, persyarikatan Muhammadiyah hadir hampir bersamaan dengan deru langkah para kolonis tersebut. Sejak dr. Soemarno Hadiwinoto bersama para perintis mendirikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah pada tahun 1940, Muhammadiyah telah meletakkan batu pertama pendidikan modern berjiwa Islam di Bumi Sai Wawai.

Kota Metro kemudian tumbuh pesat. Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kota ini secara konsisten bertengger di jajaran tertinggi Provinsi Lampung, menegaskan predikatnya sebagai Kota Pendidikan. Namun, sejarah menyisakan paradoks yang menggelitik. Ketika pemekaran kecamatan terjadi pada tahun 2000 dan PCM Metro Barat berdiri secara mandiri pada tahun 2006 (pemekaran dari PCM Metro Raya), kawasan ini berdiri di atas hamparan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) raksasa:

  • SMP Muhammadiyah 1 Metro
  • SMA Muhammadiyah 1 Metro
  • SMK Muhammadiyah 2 Metro
  • Panti Asuhan Budi Utomo Muhammadiyah Metro (LKSA tertua di Lampung yang berdiri sejak 1946)

Di mana letak perbedaannya jika dibandingkan dengan struktur ideal sebuah ekosistem pendidikan? Kita memiliki hulu berupa pendidikan anak usia dini melalui TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal, dan kita memiliki hilir yang sangat kuat berupa sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Namun, di antara hulu dan hilir tersebut, terdapat missing link atau mata rantai yang terputus pada jenjang Sekolah Dasar (SD) yang dikelola langsung di bawah naungan PCM Metro Barat.

"Walaupun RSU Muhammadiyah Metro atau SMPMu Ahmad Dahlan itu besar, Pak... tapi itu milik PDM Kota Metro. Kami di Metro Barat ini ibaratnya hanya ketempatan saja,"
— Kelakar H. Kasimun, S.Ag., M.M. (Ketua PCM Metro Barat)

Meredam Skeptisisme: Dari Kajian Malam ke Keputusan Formal (Oktober 2017)

Dahaga akan hadirnya SD Muhammadiyah semakin terasa menyengat tatkala kita menengok ke dalam pilar pelayanan sosial di Panti Asuhan Budi Utomo. Dalam sebuah perbincangan santai usai kajian rutin Rabu malam Kamis di teras panti, Pak Kasimun kembali menegaskan:

"Panti ini berdiri atas spirit Surah Al-Ma'un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan. Tapi bagaimana kita bisa memberi pelayanan terbaik kalau anak-anak santri panti tingkat sekolah dasar harus belajar ke sekolah negeri, sementara kita tidak punya sekolah dasar sendiri untuk membina aqidah dan karakter mereka secara utuh?"

Gagasan tersebut tidak lagi dibiarkan menguap. Kendati dibayangi skeptisisme klasik—soal ketiadaan modal finansial awal, kekhawatiran persaingan dengan SD negeri gratis, hingga masalah lahan—pimpinan meyakini bahwa Muhammadiyah tidak pernah lahir dari karpet merah kemudahan, melainkan dari keberanian melangkah yang terukur.

Guna merumuskan langkah konkret, PCM Metro Barat menggelar maraton rapat pleno sepanjang bulan Oktober 2017:

  1. Rapat Pleno I (Selasa Malam Rabu, 10 Oktober 2017): Menyepakati tekad bulat mendirikan SD Muhammadiyah dan Klinik Muhammadiyah Metro Barat.
  2. Rapat Pleno II (Rabu Malam Kamis, 18 Oktober 2017): Pematangan konsep operasional awal.
  3. Rapat Pleno Diperluas (Rabu Malam Kamis, 25 Oktober 2017): Menghimpun seluruh jajaran Majelis dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Metro Barat.

Puncaknya, diterbitkan Surat Keputusan Nomor: 020/KEP/IV.0/A/2017. Keputusan ini menginstruksikan penyelenggaraan Silaturrahim & Study Banding PCM Metro Barat ke Yogyakarta sebagai langkah strategis "menjemput ilmu" manajemen pengelolaan AUM unggulan.

Berguru ke Kota Gudeg: Menjemput Cetak Biru (10–14 November 2017)

Pada Jum'at sore, 10 November 2017, rombongan PCM Metro Barat berkumpul di Panti Asuhan Budi Utomo untuk bersiap berangkat menuju Yogyakarta. Rombongan ini membawa perwakilan lintas pilar persyarikatan:

  • Penasehat & PDM: Hi. M. Daud Siddiq, BA (Ketua PDM Kota Metro) dan Drs. Hi. Panggih Sunarto.
  • Pimpinan Cabang: H. Kasimun, S.Ag., M.M., H. Yasikin Elyasin, H. Wahyudi, S.Ag., Drs. H. Juri, M.M., Drs. H. Syamsudin As, dan H. Tukijo, S.Ag., M.Sy.
  • Majelis Dikdasmen: Drs. Hi. Suwahab (Ketua), Ismail, S.Ag. (Sekretaris), dan Karmana, S.E. (Bendahara).
  • Unsur PRM & Majelis: Drs.Hi. Deni Akhwandi (PRM Ganjar Asri), Drs.Kasimun (PRM Ganjar Agung), Slamet Tedy Siswoyo,M.E.I (PRM Mulyojati), Teguh Widodo,S.Si (PRM Mulyosari), Heri Setiawan (Majelis Ekonomi), Ahmad Gunawan,S,Ag.,M.Sy (Majelis Wakaf dan Kehartabendaan), dan Drs.H. Heri Triyanto (Majelis Pelayanan Sosial).
  • Panitia Pelaksana: Doni Marizka, S.H., M.H., dan Ilham Azzam Khairurrizqi.
RUTE & AGENDA STUDY BANDING PCM METRO BARAT
(10–14 NOVEMBER 2017)
10 Nov Keberangkatan Rombongan dari Panti Asuhan Budi Utomo
11 Nov Kunjungan SD Muhammadiyah Kleco & PCM Kotagede, RS KIA PKU Kotagede, BTM An-Ni'mah, & SMA Muhammadiyah 4
12 Nov Sinau Manajemen Masjid Jogokariyan
13 Nov Kunjungan PCM Umbulharjo & PRM Nitikan
14 Nov Tiba Kembali di Kota Metro, Lampung

1. Belajar Tata Kelola Sekolah Unggul di SD Muhammadiyah Kleco & Kotagede

Sabtu pagi, 11 November 2017, rombongan diterima dengan hangat oleh Ketua PCM Kotagede, Drs. H. Darwinto Nawawi, bertempat di SD Muhammadiyah Kleco. Di sekolah ini, Majelis Dikdasmen Metro Barat berdiskusi mendalam dengan kepala sekolah mengenai manajemen sekolah dasar unggulan. Kami mempelajari bagaimana sekolah dasar Muhammadiyah mampu menjadi pilihan utama masyarakat perkotaan dengan memadukan kualitas akademis dan penanaman nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan.

Foto Bersama dengan PCM Kotagede Yogyakarta di SD Muhammadiyah Kleco

2. Menimba Manajemen Kurikulum Plus di PCM Umbulharjo & PRM Nitikan

Senin, 13 November 2017, rombongan melanjutkan pergerakan ke PCM Umbulharjo. Di bawah rintik hujan dan sambutan hangat Ketua PCM Umbulharjo, Pak H. Musrih Haryono, B.A., persyarikatan membongkar dapur tata kelola AUM Pendidikan mereka:

  • Kurikulum Program Plus: Terstruktur sejak 1998 lengkap dengan perangkat silabus, buku pegangan, hingga rapor khusus.
  • Branding Sekolah: Strategi mendorong setiap SD Muhammadiyah memiliki keunggulan unik (differentiating factor) agar berdaya saing tinggi.
  • Konsolidasi Guru & Prestasi: Pelatihan berkala untuk guru/karyawan serta koordinasi intensif untuk mendongkrak capaian akademis siswa.
  • Tata Kelola Cabang: Pelaksanaan empat kali rapat koordinasi rutin setiap bulan (Pimpinan Harian, Majelis, Ortom, dan Pengajian PRM).

Tidak lupa, rombongan juga menimba ilmu manajemen kemakmuran tempat ibadah di Masjid Jogokariyan pada Ahad, 12 November 2017, untuk memastikan bahwa pembangunan fisik sekolah nantinya harus berakar kuat pada kemakmuran masjid persyarikatan.

Menyemaikan Obor Peradaban Baru

Pelaksanaan study banding selama lima hari di Yogyakarta bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah ikhtiar spiritual dan intelektual. Kami pulang ke Kota Metro pada Selasa, 14 November 2017, tidak dengan tangan kosong. Kami membawa gambaran utuh, kurikulum pembanding, serta keyakinan mantap bahwa Metro Barat sangat siap dan mampu melahirkan sekolah dasar unggulan sendiri.

Sinergi antara tokoh senior, Majelis Dikdasmen, para pimpinan ranting, dan angkatan muda yang terlibat dalam perjalanan sejarah ini menjadi bahan bakar utama. Lahan subur di empat kelurahan—Ganjar Agung, Ganjar Asri, Mulyojati, dan Mulyosari—tidak boleh lagi dibiarkan dahaga.

Keputusan telah bulat, cetak biru telah digenggam, dan niat telah dipancangkan. Dari hasil oleh pikir, riset lapangan, dan konsolidasi pasca-kepulangan dari Yogyakarta inilah, tim kecil perintis bergerak cepat mengukir sejarah baru: menyemaikan cikal bakal lahirnya SD Muhammadiyah Sang Pencerah Metro.

Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts